indosiar.com, Jakarta – Survei yang dilakukan oleh Indobarometer menunjukkan pengetahuan masyarakat terhadap kasus Century cukup tinggi yakni 77 ( tujuhpuluh tujuh) persen responden, mengalahkan respon masyrakat atas program seratus hari SBY – Boediono dan kasus Bibit dan Chandra.

58 ( lima puluh delapan) persen, masyrakat menilai kasus Century akibat salah kelola, bukan karena krisis keuangan internasional.

43 ( empatpuluh tiga persen) masyarakat melihat, Boediono dan Sri Mulyani adalah pihak yang bertanggung jawab atas pencairan dana itu, sementara SBY hanya mencapai angka 10 (sepuluh persen) persen.

Meski 36,6 persen menyatakan SBY dan keluarganya tidak menerima uang Century namun 48 persen menyatakan kasus ini bisa merusak citra SBY.

Masyarakan juga menaruh harapan besar kepada pansus Century DPR. 52,4 persen yakin pansus Century akan mengungkap kasus ini.

Lalu apa komentar politisi dan anggota pansus terkait survei yang mendukung mereka itu.

Masih soal kasus Century. Dalam sebuah diskusi Minggu (24/1/2010) siang di Jakarta, ada kesan bahwa pengusutan kasus Century akan digiring ke arah tindak pidana penipuan bank, sehingga penyelesaiannya hanya lewat undang-undang perbankan.

Dengan begitu nantinya yang akan diusut hanya pejabat Century saja.

Jika penyelesaiannya seperti itu, maka pihak-pihak di luar Century yang terlibat akan melenggang bebas. Karena itu Bambang Susatyo berharap pers dan masyarakat turut memantau perkembangan pengusutan kasus ini.

Sumber:

http://www.indosiar.com/fokus/84046/kasus-century-merusak-citra-sby-di-masyarakat

____________________________________________________________________

Jakarta – Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani terus disebut-sebut sebagai pelaku utama skandal Bank Century. Tidak tertutup kemungkinan pelaku kriminalisasi dua pejabat pemerintah tersebut adalah pengemplang pajak.

“Pejuang antikorupsi selevel Boediono dan Sri Mulyani justru dikriminalkan. Padahal, amat mungkin yang mendesain justru adalah kelompok-kelompok yang punya masalah hukum, tidak taat membayar pajak,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, HAM, dan KKN, Denny Indrayana kepada detikcom, Minggu (7/2/2010).

Tidak hanya itu, Denny juga memprediksi, suasana keruh ini juga diciptakan oleh pihak-pihak yang tidak puas dengan pembagian kekuasaan. “Jangan sampai kasus century dijadikan alat tawar kepada pemerintah oleh pelanggar hukum, pengemplang pajak. Stop politisasi century,” tegasnya.

Denny menduga, pihak-pihak yang menuding Sri Mulyani dan Boediono selama ini justru sedang khawatir. Mereka takut jika sikap Sri Mulyani dan Boediono bisa membahayakan posisi pihak-pihak tersebut.

“Dengan kata lain, kriminalisasi terhadap Boediono dan Sri Mulyani adalah bentuk kesekian dan upaya para pelaku korupsi menyerang balik (corruptors fight back),” tandasnya.

http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=kasus+century&aq=f&aqi=g10&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=a3523cabe6b69e24