Aku kepadamu:

Ia ingin berkisah padamu tidak hanya semalaman.

Ia ingin percaya padamu tidak hanya sekehidupan.

“Kalau bisa… Kalau bisa…” kudengar ia berkata.

Setelah waktunya di lembah-lembah, di gurun-gurun,

Setelah bulan demi bulan impian lamanya tak bergeming.

Ia melihatmu, memandangmu diantara lubuk bening matamu.

Lalu ia ingin menjadi milikmu.

Karena ia belajar tahu,

“Ia terlampau liar untuk dimiliki dirinya sendiri.”

Aku kepadanya:

Kau tak harus menerima lamaran sinar matanya.

Tampiklah jika mesti menampik.

Hal itu hanya akan membuatnya tersenyum ganjil.

Senyum sepi yang bukan sepi.

Seperti meniru simpul sang tokoh abadi.

Sebab ia tahu…

Tiap buah, tiap bunga, tiap benih itu milik bumi.

Seperti tiap jerit, tiap isak, tiap tawa, tiap bisik, itu milik sunyi.

Engkaupun telah ia miliki dengan caranya sendiri.

Yang barangkali diputuskannya

Untuk tak usah pernah kau ketahui.