Jangan panggil gue baik” adalah kalimat yang akhir-akhir ini sangat sering aku ucapkan, tepatnya sejak aku mulai kuliah. Kau pasti bertanya, kenapa aku sering mengucapkan kalimat itu, bukan? Alasannya tentu saja bukan karena aku peduli orang mengganggapku baik atau jahat. Tetapi ini semua karena nama. Ya, nama depanku “Baiq.” Tolong membacanya hanya dengan sedikit penekanan pada huruf “Q” bukan seperti huruf “K” pada kata “Baik.” Aku akan lebih senang kalau kau mau memanggilku dengan sisa nama belakangku yang lain, dan ditambah senyum cemerlang kalau kau mau memanggilku dengan nama panggilan kecilku saja, Icha.

Baiq. Laxmi Riska Zone. Itu nama panjangku. Kebanyakan orang mengatakan namaku itu unik. Sebagian bilang aneh, dan sedikit yang bilang bagus. Sebenarnya aku sendiri cukup menyukainya, “Beda dari yang lain,” pikirku. Tapi aku mulai sedikit terganggu saat ada yang yang bertanya “Apa sih baik?”, “Ihhh, Icha yang baik” dan segala embel-embel tentang baiq. Baiq adalah nama yang kudapat karena aku keturunan dari seorang “Lalu”, yaitu Papaku. Papaku adalah orang Lombok. Dan Mamaku lahir di Banjarmasin. Kau pasti tahu kan, di Jawa, keturunan ningrat biasanya memiliki nama depan Raden. Nah, asal namaku tidak terlalu jauh berbeda dengan itu. Papaku yang berasal dari Lombok menceritakan tentang hal itu. Kata Papa, keluarga “ningrat” di Lombok memberikan nama “Lalu” kepada anak lelaki mereka dan “Baiq” kepada anak perempuan mereka. Singkatnya karena Papaku seorang “Lalu”, maka aku mendapatkan “Baiq” di depan namaku. Kalau kau ingin lebih mengetahui cerita lengkapnya, sebaiknya kau berkunjung ke Lombok. Akan menghabiskan berlembar-lembar halaman kalau aku menceritakannya di sini. Nah, kau sudah tahu alasannya sekarang. Jadi, jangan panggil aku Baiq.

Itu tadi hanya selingan ringan, sekarang aku ingin bercerita tentang siapa aku. Aku, anak ketiga dari empat bersaudara. Satu-satunya anak perempuan dalam keluarga kecilku. Dibesarkan dengan dua orang kakak laki-laki dan seorang adik laki-laki, membuatku tidak seperti perempuan lain pada umumnya. Aku tomboy, tidak biasa berdandan, dan tidak suka memakai rok. Ini semua akibat dari pergaulan masa kecilku yang selalu bermain dengan teman-teman kedua abangku. Saat kecil, aku sangat pandai memanjat pohon, memanjat pagar untuk memasuki daerah perumahan pertamina yang tertutup untuk bermain di pasir putihnya, dan menjelajahi hutan kecil untuk mencari buah karamunting dan kantung semar, juga bermain di tambak kosong di belakang rumah untuk mencari kepiting kecil. Disaat anak-anak perempuan lainnya memainkan alat-alat memasak dan “rumah-rumahan” serta boneka, aku bermain tembak-tembakan dengan pistol berpeluru plastik, gobak sodor, benteng, kasti, dan bahkan egrang. Aku ingat hanya diam di rumah selama seminggu saat orangtuaku membelikanku seperangkat peralatan mainan dokter. Aku sangat senang dan memainkannya selama seminggu penuh, sampai akhirnya bosan karena hanya bermain seorang diri di rumah. Tapi, sampai sekarangpun aku tidak pernah menyesal karena tidak pernah memainkan semua permainan anak perempuan itu. Menurutku, masa kecilku sangat bahagia dibandingkan dengan anak-anak sekarang yang sibuk dengan PS, internet, games di komputer, bahkan BlackBerry mereka.

Aku dan keluargaku memulai kehidupan kami di Balikpapan, aku dan semua saudaraku lahir di sana. Kehidupan sudah sangat bahagia sampai akhirnya keluarga kami memutusakan pindah ke Lombok saat aku kelas 5 SD. Dengan aku yang masih kecil dan manja, kehilangan teman-temanku, dan harus bersosialisasi ulang dengan kehidupan desa yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan, membuatku tidak senang dengan keputusan ini pada awalnya. Tetapi, semakin lama di sana, aku berubah pikiran. Mengingat indahnya pemandangan Lombok, pantai-pantainya, sawah yang sebelumnya tidak pernah aku lihat di Balikpapan, dan semua perhatian yang aku terima dari keluarga Papaku dan teman-temanku di sekolah baruku, aku merasa senang, tersanjung, dan sedikit besar kepala. Karena aku sebagai “barang baru” dan “asing” dan “berbeda” dari yang ada di sana, itu semua dianggap menarik dan dianggap layak mendapatkan perhatian berlebihan. Apalagi dengan title “Baiq” yang membuat keluarga kami lebih dihormati. Hanya saja, perhatian ini tidak berlangsung lama, sebulan atau dua bulan saja sudah cukup. Seperti peribahasa “Hidup ini seperti roda, selalu berputar.” Kemarin, kau mungkin menjadi monumen yang mempesona bagi seseorang, lalu esoknya kau bisa menjadi gudang tempat penyimpanan barang. Singkatnya, kau tidak selalu berada di atas. Orang bosan dan semua perhatian itu hilang lalu kau menjadi biasa lagi. Aku semakin mengerti dengan semua itu saat aku beranjak remaja dan menginjak bangku SMP.

Semua berubah. Papaku pergi berlayar dengan kapal minyak mengelilingi dunia. Itu saja sudah berat. Aku sangat dekat dengannya, dan aku tidak biasa ditinggal lama. Walaupun dengan seiring waktu, misalnya sekarang, aku mulai terbiasa. Tapi tetap saja, hidup hanya dengan Mama tanpa sosok Papa sangat berbeda. Lalu aku semakin besar dan berpikir, “Hidupku sebenarnya tidak terlalu kacau. Sebenarnya yang kacau adalah dunia ini, membawa perubahan kepada kita semua, tanpa satu orang pun dapat mengantisipasinya.” Hasilnya, aku pun tumbuh menjadi gadis kuat yang tidak gampang menangis, apalagi di depan Mamaku. Dampak buruknya, aku berubah menjadi gadis murung saat berada di rumah. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di kamar setiap pulang sekolah, membaca novel, dan komik. Aku sangat suka membaca, hanya saja dulu aku membaca buku tidak dengan cara mengurung diri di kamar. Sedangkan di sekolah, aku menjadi gadis nakal dan periang. Aku jadi ingat kata-kata di buku yang pernah aku baca, kira-kira seperti ini, bahkan di Kota Abadi, kita harus selalu siap untuk menghadapi kekacauan dan gelombang transformasi yang tak henti-hentinya. Dan saat itu, kurasa aku masih terlalu muda untuk siap.

Duduk di bangku SMP adalah pengalaman yang sangat menarik, berkesan, dan menyenangkan. Tidak ada kata susah di sana, hanya ada senang. Tidak ada tangis, hanya ada tawa. Saat SMP aku selalu mendapat Ranking pertama. Bahkan aku pernah mendapat juara umum dengan nilai tertinggi ke-2 dari seluruh kelas satu. Tapi itu hanya saat kelas satu. Saat kelas dua, nilaiku anjlok, walaupun tidak tersingkir dari juara pertama di kelas (ini mungkin karena memang tidak ada saingan di kelas), tapi aku jelas tersingkir dari posisi juara umum. Itu semua terjadi karena aku malas, dan sangat nakal saat kelas dua. Banyak melanggar peraturan dan sering membolos (dengan memanjat jendela dan pagar sekolah). Semua anak di kelasku seperti itu, kami bahkan mendapat predikat sebagai kelas ternakal. Saat kelas tiga aku mulai mengenal yang namanya “suka” dengan lawan jenis. Dan bukannya bertaubat dan menjadi lebih baik, aku dan “gengku” semakin terperosok ke arah yang salah, padahal kami sudah kelas tiga. Tapi, Alhamdulillah aku dan teman-temanku bisa lulus dengan nilai yang bagus, dan aku bisa masuk ke SMA impianku tanpa tes. Sungguh suatu keajaiban!

Masa-masa SMA sangat berbeda dengan masa SMP. Saat SMP tidak ada yang namanya “Ja’im” atau menjaga image, ini sungguh berbeda dengan saat SMA, gadis-gadis tumbuh remaja dan berusaha menarik perhatian cowok-cowok yang mereka suka. “Huh, aku sih tidak! Aku akan menjadi diriku sendiri”, pikirku angkuh. Itu semua beralasan, karena aku sudah punya pacar dari SMP, dan menurutku berperilaku seperti itu tidak perlu. Tapi lalu, setelah 5hari di SMA, aku mendapat kabar dari temanku, kalau pacarku itu, punya pacar lain di sekolahnya. Itu membuatku sangat sedih. Pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis karena cowok, sehari-semalam tanpa berhenti. Aku mengurung diri di kamar sepulang sekolah, mogok makan dan minum, dan di ujung tangisku aku bertekad tidak akan pernah lagi meneteskan air mata untuk yang namanya cowok. Dan begitulah, masa-masa baruku di SMA dimulai. Aku memfokuskan diri pada pelajaran yang diajarkan; Kimia, Bahasa Inggris, dan Biologi, adalah mata pelajaran favoritku. Khususnya Biologi. Aku akrab dengan para guru, mendapatkan sahabat-sahabat terbaik, dan cukup terkenal diantara kelas X, dari Xa s/d Xg. Itu semua karena kegiatan menghibur diri sehabis patah hati. Jadi pengalaman itu tidak terlalu buruk. Dan lagi aku segera mendapatkan pacar baru saat kenaikan semester dua. Nilai-nilaiku cukup memuaskan dan Mamaku juga senang karena aku tidak murung lagi.

Saat kelas dua, aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana membedakan antara cinta dan obsesi. Aku mempunyai seorang pacar yang juga adalah sahabatku, aku sangat menyayanginya, sampai saat aku diuji oleh keputusan tiba-tiba dari –lagi-lagi– orangtuaku yang memutuskan untuk pindah ke Jakarta, saat aku kelas 3 nanti. Dan di ujung semester dua aku memutuskan untuk putus baik-baik dari pacarku, karena meras tidak mungkin long distance. Dia menerimanya dengan sangat baik dan mengerti dengan keputusan itu. Tapi aku, yang dengan bodohnya mengacaukan segalanya. Tepat sehari setelah putusnya kami, aku “ditembak” oleh obsesiku yang saat itu aku kira aku menyukainya, karena aku sudah menjadi fansnya sejak pertama kali melihatnya, dan benar-benar memimpikan saat-saat ini. Aku pun menerimanya dengan senang, tanpa pikir panjang, yang ada di kepalaku hanyalah kata-kata ,”Yes! Akhirnya! Tepat sebelum aku pindah ke Jakarta! Kukira ini tidak akan pernah terjadi.” Hanya itu, aku tidak mengira kalau mantanku akan marah, dan melemparkan buku “Relativitas Einstein” kepadaku. Aku memohon kepadanya, meminta maaf, dan dengan keras kepala mengatakan kalau aku ingin bahagia sebelum pergi. Aku yang egois!

Tidak perlu waktu lama, hanya butuh waktu 3 hari, untuk membuktikan kata-kata Widagdo dalam buku itu benar, bahwa Ada perbedaan mendasar antara cinta dan obsesi. Objek obsesi tidak lagi berharga saat ada dalam genggaman. Tapi, objek cinta selalu berharga sampai kapanpun juga. Dalam waktu yang singkat, aku sadar, kalau aku sudah membuangberlian saat aku sedang mengumpulkan batu. Kebodohan terbesar yang pernah aku buat, namun juga pelajaran terbaik dari hidup untukku. Karena mulai saat itu aku belajar dan tahu bahwa tidak selamanya kau selalu bisa mendapatkan apa yang kau mau, tanpa mengorbankan sesuatu yang lain.

Aku pindah ke Jakarta dengan membawa semua itu. Seperti mempercayakan semuanya pada kaca spion, jangan menoleh ke belakang dan hanya bisa menyesal, walaupun aku akan selalu merasa was-was akan masa lalu yang terlihat dari kaca itu, tetaplah maju dengan mantap, belajar dari kesalahan masa lalu. Meskipun, Aku akan berkali-kali jatuh dan bangun lagi, seperti anak balita yang sedang belajar berjalan. Tapi dalam kasusku, belajar untuk berdiri tidak akan berhenti sampai akhir nafasku.

Aku lulus SMA dan mendaftarkan diri di kedokteran UI, karena itu adalah cita-citaku dari kecil, menjadi dokter spesialis Ataksia. Bahkan, sampai sekarangpun aku masih ingin menjadi dokter, itu juga alasan kenapa aku sangat menyukai Biologi. Tapi, sayangnya, hanya dengan menyukai pelajaran biologi tidak membuatmu dengan gampang lulus kedokteran. Butuh usaha dan modal yang besar untuk mewujudkan semua itu, dan tentu saja bertentangan dengan kondisi keluargaku, dengan seorang adik yang masih harus dibiayai.

Dan di sinilah aku sekarang, seorang mahasiswi tingkat 4 Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi, Universitas Gunadarma yang sedang mencoba meraih cita-cita barunya, setelah cita-cita lama terhempaskan. Tapi tidak apa, aku yakin Allah pasti punya rencana indah lain buatku. Yah, mungkin saja aku nanti bisa bekerja di Bank Dunia seperti Ibu Sri Mulyani. Amin.