Sepertinyanovel ini masih ada harapan🙂 sedikit demi sedikit aku akan melanjutkannya * diri sendiri*

Pertemuan

Tidurku sangat nyenyak malam ini. Tidak seperti malam-malam lainnya, aku selalu tidak bisa tidur karena insomnia yang aku alami. Mungkin karena kemarin adalah hari yang melelahkan bagiku, jadi aku bisa tidur lebih cepat dan tanpa mimpi.

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kamarku yang terbuka. Semalam aku memang lupa menutup jendela karena udara sangat lembab, dan aku terlalu lelah untuk berjalan beberapa langkah dari tempat tidurku yang nyaman. Kubuka mataku perlahan, terdiam beberapa saat, kulirik pakaianku, ternyata aku masih berpakaian lengkap. Aku beranjak dari tempat tidurku, duduk sebentar di pinggir tempat tidur, mengingat hal lucu yang terjadi di sekolah kemarin, tersenyum-senyum sendiri, lalu bangkit dan langsung menuju kamar mandi.

Mengingat satu hal lucu dan menyenangkan sebelum memulai hari, bisa dibilang adalah ritual yang kulakukan setiap pagi, supaya bisa memulai pagi dengan senyum, dan bisa meringankan langkah kakiku menuju sekolah. Dan terbukti, itu memang selalu berhasil.

* * *

“Pagi, Nda.” Sapaku riang.

Bunda tersenyum, agak geli dan heran,  begitu melihat aku sudah rapi. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh kurang. Wajar saja. Karena biasanya kan, aku selalu telat bangun, karena insomnia sialan itu.

“Pagi, sayang. Tumben kamu sudah rapi? Ada piket ya hari ini?” goda Bundaku, kembali melanjutkan kesibukannya menyiapkan sarapan.

Aku nyengir. “Bunda, bukannya bagus ya, kalau aku bisa kayak gini setiap hari?” kataku. “Mm, tapi emang hari ini ada acara di sekolah, sih. Anak-anak bilang aku harus datang pagi. Kata mereka, ada kejutan. Au’ deh, nggak ngerti.” Jelasku.

Aku memang selalu menceritakan setiap hal pada Bunda. Bagiku, dia bukan saja seorang Bunda yang hebat, tapi juga sahabat dan teman curhat yang paling top! Bundaku cantik, dengan rambut hitam sebahu, tubuh tinggi yang ramping, dengan mata bulat dan bola mata cokelat yang sama denganku. Bunda cerdas, dan sangat memahami anak-anaknya. Selalu bisa memberikan nasihat tanpa kesan menggurui. Selain itu, Bunda juga berperan sebagai Ayah di rumah ini. Bunda memang wanita yang tangguh, aku selalu berpikir begitu.

“Kejutan? Kejutan apa? Teman-teman kamu itu ada-ada aja ya. Salam Bunda deh buat mereka. Bilangin makasih, udah bisa buat anak gadis Bunda bangun pagi.” Bunda masih menggodaku. Bahkan sekarang Ia mulai tertawa.

Aku pura-pura cemberut. “Ya, aku sampein ntar. Tapi salamnya doang!”

Bunda semakin geli melihat reaksiku. Tapi kemudian berhenti dan menatapku. Mungkin agak merasa bersalah. “Ya sudah, maafin Bunda, ya. Kamu panggil kak Rei gih, ajak sarapan.”

Kak Rei, kakakku satu-satunya. Aku dan dia hanya berbeda tiga tahun. Sekarang dia kuliah di salah satu universitas yang ada di Jakarta ini. Aku termasuk beruntung punya kakak seperti kak Rei yang tampan. Apalagi dia mau mengantarku setiap hari ke sekolah.

“Kaaak, sarapaaan!!!” Teriakku begitu sampai di depan pintu kamarnya.

“Ya. Bentar lagi kakak turun.” Sahutnya dari dalam.

Aku kembali ke ruang makan. Bunda sudah duduk di sana. Tak lama kemudian, kak Rei muncul.

* * *

“Luna, lo nggak on time! Ini tuh udah jam 7.10! Gue sama anak-anak kan minta lo dateng jam 7.00!” sembur Firda begitu aku sampai di pagar depan sekolah.

“Yaelah. Gue cuma telat sepuluh menit ini!” kataku membela diri. “Sekolah kan mulai jam 7.15.” Sebenarnya aku bisa saja datang on time, tapi aku sengaja berlama-lama saat sarapan, juga sengaja memaksa kak Rei untuk mengemudi di bawah kecepataan normal. Dari rumahku ke sekolah hanya butuh waktu 15 menit kurang tapi dengan kecepatan normal.

Sial! Mereka kayaknya marah nih. Liat aja muka mereka. Udah kayak abis makan sambel dua mangkok!

“Kak Rei mana, Lun?” tanya Ayu. Jelas, keluar jalur. Ayu, sejak pertama kali ketemu kak Rei langsung suka. Katanya sih, love at the first sight.

“Dia buru-buru, jadi langsung cabut.” Jawabku singkat. Pura-pura nggak ngeliat tatapan kesal yang lain. Kak Rei, biasanya selalu mampir dulu. Alasannya dia sih, mau nganterin aku biar selamat sampai depan gerbang. Tapi menurutku, dia mau liat Ayu juga kali.

“Ayu! Lo merhatiin nggak sih? Kita kan lagi marahin Luna! Loe malah nanyain kak Rei!” Sambung Vya kesal.

“Sudah, sudah. Kok malah berantem? Masuk, yuk.” Potong Ai. Dia memang yang paling tenang di antara kami semua.

“Kejutannya mana?” tanyaku santai, sambil berjalan menuju kelas kami, XI IPA 2. Sama sekali nggak ngerasa bersalah.

“Ada di kelas.” Jawab Riny.

Aku diam mendengar jawaban Riny. Apa sih kejutannya? Di kelas pula. Kayaknya ulang tahunku masih lama.

Teng-teng-teng….

Bel berbunyi. Memang agak jadul. Tapi kata Kepala Sekolah sih, demi menjaga nilai-nilai ‘tradisional’.

“Maaf, Na. kayaknya kejutan lo di tunda sampai pulang sekolah. Lo sih ngaret!” Kata firda, masih kesal kelihatannya.

Sial! Bikin penasaran aja, batinku.

* * *

“Pagi, anak-anak.” Sapa Bu Tania ramah. Bu Tania adalah guru paling muda dan paling cantik di sekolahku. Dia guru Biologi. Salah satu pelajaran favoritku.

“Pagi, Buuu.” Balas anak-anak sekelas. Terdengar bersemangat.

“Oke. Hari ini kita kedatangan teman baru. Dia pindahan dari Balikpapan.” Lanjut Bu Tania. “Dave, kamu boleh masuk.”

Seorang cowok, tinggi, dengan kulit putih (tapi nggak pucat), memasuki kelas. Rambutnya agak ikal, dan ditata berantakan. Mengingatkanku pada rambut Edward Cullen, tokoh vampir di seri Twilight. Hanya saja rambut cowok bernama Dave ini berwarna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya. Dilihat dari segi fisik, dia lumayan tampan juga. Segera saja terdengar gumaman bergairah cewek-cewek di kelas. Tidak perlu menjadi cerdas untuk bisa menebak kalau cowok ini bakal jadi rebutan.

“Nama gue Dave.” Katanya singkat. Sok cool menurut gue. Dan namanya kayak merek sabun, Dove. Hihihi… aku tertawa dalam hati.

“Sudah? Kamu nggak mau ngenalin diri lebih lengkap?” tanya Bu Tania dengan ekspresi heran.

“Nggak, Bu. Nanti juga kenal.” Jawabnya. Bu Tania mengangguk mengiyakan, dan menyuruh Dave duduk di bangku kosong.

Bangku kosong? Bangku gue dong! Oh, oke. Relax Luna. Jangan tersihir sama tampangnya, kataku pada diri sendiri.

Di kelasku, kami duduk berpasangan. Cowok-cewek. Yah, kata Wali Kelas aku sih, biar nggak ngegosip. Dan teman sebangkuku pindah pertengahan semester satu lalu. Jadi, cuma bangkuku yang kosong saat ini.

Dave berjalan santai ke bangku tempatku duduk. Langkahnya pelan, tidak peduli dengan tatapan cewek-cewek di kelasku yang mengikuti gerakannya. Badannya atletis. Mungkin pemain basket, pikirku.

Demi berbasa-basi saja, supaya tidak dianggap tidak sopan dan tidak kaku  nantinya sama orang yang bakal menjadi teman sebangkuku, aku memberanikan diri menyapanya.

“Hai, gue luna.” Kataku sambil mengulurkan tangan. Itu berarti aku harus menatapnya. Dan saat itulah aku melihat matanya. Cokelat. Lebih terang dari mata cokelatku. Hidungnya juga mancung. Mmm… kayaknya terlalu banyak bagian sempurnanya. Nggak adil, pikirku. Gue kan pengen punya hidung mancung kayak dia.

“Nggak nanya.” Sahutnya. Memalingkan mukanya dari pandangan takjubku.

Sial! Belagu banget ini cowok! Batinku kesal. Kutarik lagi tanganku cepat-cepat. Merasa malu, kesal, sebal, dan agak sedikit menyesal. Harusnya tadi gue cuekin aja! Dasar cowok belagu!

Selama sisa pelajaran itu kami tidak saling berbicara. Sepertinya ada hawa panas di antara kami berdua. Atau mungkin itu hawa panas dari perasaan kesalku saja? Aku langsung berhenti ‘berbasa-basi’. Bodo’ amat! Kayaknya gue bakalan nggak akur nih sama ini cowok! Teman sebangku pula! huh!

* * *

“Luna! Lo beruntung banget bisa duduk sama si Dave itu!” Sembur Riny langsung begitu bel istirahat berbunyi. Dan si Dave-Dove itu langsung cabut entah kemana.

“Beruntung? Berasa di neraka tahu nggak!” sahutku ketus. Masih merasa kesal gara-gara kejadian tadi.

Ai, Riny, Vya, Ayu, dan Firda langsung kaget begitu mendengar nada suaraku. Mungkin mereka pikir seharusnya mereka yang masih marah karena kejadian tadi pagi, bukannya aku.

“Lho, emang anaknya kenapa? Dia jahatin elu ya?” tanya Ai, cemas.

“Nggak sih. Cuma bikin gondok aja. Gue sakit hati banget tuh sama sikapnya dia! Masa tadi gue ajak kenalan, dia malah sewot gitu. Gue bilang, hai, gue luna. Dengan senyum terbaik gue pula! Eh, dia malah bilang, gue nggak nanya! Ngeselin banget, kan?” jawabku berapi-api.

Ai, Riny, Vya, dan Firda, menahan senyum. Jelas banget, begitu gue mutusin buat pergi ke toilet atau apa. Mereka pasti langsung ngakak ngetawain gue. Tapi Ayu malah terkesiap kaget.

“Maksud lo, lo nyatain cinta ke dia, terus ditolak. Dan sekarang, lo sakit hati?” tanya Ayu polos. Nadanya kaget bercampur kasihan.

Ugh. Dasar si Ayu Lola (Loading Lama). “Makanya ayu… kalau orang lagi ngomong itu, didengerin dulu sampai selesai. Jangan di pertengahan kalimat, lo udah nyimpulin sendiri!” balasku, makin kesal.

Hahahahahahaha… yang lain sudah tak sanggup menahan tawa mereka. Bagus. Gue jadi badut hari ini. Ugh! Walaupun kalau melihat muka Ayu sekarang aku juga jadi pengen ketawa. Dia masih kelihatan bingung kayaknya.

“Hei, Ladies… rame banget. Ada lelucon lucu yang gue lewatin ya?” sapa seorang cowok yang sedang melangkah menuju kami. Aku memalingkan kepala begitu cepatnya, sampai terasa sakit, karena mendengar suara familier yang sangat kurindukan itu.

Langsung saja aku melarikan diriku ke dalam pelukannya, cowok jangkung, dengan mata hitam dan lesung pipi yang membuat wajahnya semakin manis.

“Kak Aga! Kapan pulang? Kok nggak bilang-bilang sama gue?” kataku, sambil melepaskan diri. Malu.

“Yaaah… Kak Aga nggak kompak! Kejutannya kan harusnya ntar, pas pulang sekolah!” kata Vya, kecewa. Yang lain mengangguk setuju.

“Maaf ya, girls. Abis gue udah kangen banget ama Luna.” Sahut kak Aga santai. Nggak merasa bersalah kelihatannya.

“Uhh… jahat banget sih kalian! Pake rahasia-rahasia segala!” gerutuku pelan. Pura-pura kesal. Padahal, semua kekesalan yang tadi sudah menguap begitu melihat kak Aga di depanku. Bahkan, sekarang pipiku memerah, karena ucapan kak Aga tadi. Apa? Dia kangen aku?

“Duh ada yang merah tuh pipinya…” ledek Firda. Yang di barengin kata-kata cieeeee… anak-anak.

“Udah, udah. Jangan diledekin mulu. Pipinya udah kayak tomat tuh.” Kata kak Aga. Jelas aja aku malah semakin merah. “Gue ada oleh-oleh buat kalian, nih.” Lanjutnya sambil menyodorkan paper bag warna cokelat ke anak-anak.

“Waaah… keren! Saljunya kayak beneran. Thanks ya, kak Aga.” Kata Ai senang. Yang lain juga ikut bilang thanks.

“Iya, sama-sama. Masing-masing satu. Ada enam kan?” tanya kak Aga memastikan.

“He-eh. Pas kok!” sahut Ayu. “Nih…” lanjutnya sambil menyodorkan kaca berbentuk bola yang memiliki tatakan seperti tungku padaku.

Indah banget, batinku. Di dalam bola kaca itu ada miniatur pohon sakura, dan bersalju. Saljunya benar-benar berterbangan.

“Suka?” tanya kak Aga padaku. “Kalau ditaruh di tempat gelap, agak bercahaya lho… mungkin efek saljunya.” Lanjut kak Aga.

“Suka. Suka banget.” Sahutku cepat. Memerah lagi. Dari sudu mata, kulihat Ai dan Riny saling sikut melihat pipiku yang memerah lagi.

“Oya, ini titipan Luna.” Kata kak Aga sambil menyodorkan sebuah buku dan sapu tangan putih bersih.

“Serius kak? Ini komik aslinya, kan? Kok kakak bisa dapet tanda tangannya juga?” tanyaku kagum. Iyalah, dikasih komik favoritku, Detective Conan.

“Yep. Gue langsung nyari Aoyama Gosho-nya. Untung aja paman gue kerja di penerbitan komik. Jadi dia yang anterin gue.”

“Thanks banget ya, kak!” kataku. Benar-benar berterimakasih.

“Sama-sama.” sahutnya sambil tersenyum menatapku. Gila! Ganteng banget!

Rasanya istirahat cepat banget berlalu. Padahal aku kan masih pengen ngobrol sama kak Aga. Satu bulan nggak ketemu sama dia. Aku benar-benar masih kangen.

“Oh, udah bel. Gue balik ke kelas, ya.” Katanya. “Mm… ntar pulang sama gue ya, Lun. Luna sms kak Reihan, jangan lupa.” Lanjutnya begitu melihat tampangku yang sedih.

“Beneran? Oke!” sahutku cepat. Berseri-seri lagi. Kak Aga tersenyum melihat reaksiku.

“Cieeee….” Teriak anak-anak serempak.

Dasar! Bisanya ngeledekin orang aja. Tapi, aku nggak bisa kesal lagi sekarang. Hatiku benar-benar senang. Pura-pura tak mendengar, aku berjalan kembali ke bangkuku dengan langkah seolah-olah melayang. Anak-anak tertawa lagi.

Begitu sampai di bangku, aku kaget karena ternyata Dave sudah duduk di sana. Kapan ni orang masuk? Kayaknya gue nggak liat dia masuk deh. Au’ah… peduli amat. Dengan cuek aku mengenyakkan diriku ke bangku. Keras. Tapi rasanya saat ini aku sedang duduk di sofa empuk (berlebihan ya? hehe ^^” ).

Dari sudut mata kulihat Dave memperhatikanku. Mungkin menungguku bicara atau apa. Atau menungguku meledak? Tentu saja karena perasaan bahagia sekarang ini. Tapi mungkin baginya meledak karena marah.

Masih berlagak cuek, seolah-olah dia tidak ada, kukeluarkan handphone-ku dari saku dan langsung menulis pesan ke kak Rei.

To: Kak Reihan

Kak… hari ini aku pulang bareng Kak Aga, y? Yup! Kak Aga uda balik. ^_^

Wah… ada balesan! Cepet juga kak Rei, batinku.

From: Kak Reihan

Hmmm… ada yg lg happy nih. Oke deh, salam buat Aga.

Ya, Pasti. Balasku cepat.

Walaupun aku sudah berpura-pura Dave nggak ada, tapi aku bisa merasakan tatapannya masih tertuju ke arahku. Kenapa sih ni orang? Punya kelainan kali, ya?

Tidak sabar, kualihkan mataku dari buku yang pura-pura kubaca. Tapi Dave sama sekali tidak malu atau terkejut aku memergokinya menatapku. Respon yang biasa, kuangkat alisku. Tanda heran sekaligus mengatakan kata-kata bisu ‘apa?’

Sepertinya Dave mengerti. “Nggak ada.” Sahutnya. Masih terdengar ketus. Tapi rasanya dia berusaha mengatur nadanya agar terdengar sopan. “Lo Luna.” Lanjutnya.

“Gue tahu!” sahutku ketus. Lebih ketus dari dia.

Anehnya, dia terkejut dan tersenyum kecil. “Ya. Tentu aja lo tahu. Itu kan nama lo.” Balasnya. Masih tersenyum kecil. “Maaf ya, sikap gue tadi pagi emang kasar. Maaf.”

Sekarang gantian aku yang kaget. Dia tersenyum. Dan tampan. Kuatur suaraku agar terdengar wajar. “Oh, nggak apa-apa. Udah gue maafin kok.” Baru aja.

Dia tersenyum lagi, lebih lebar kali ini. Dan tambah tampan. “Thanks.” Balasnya. Aku mencoba balas tersenyum. Tapi sepertinya tidak semenawan senyumnya. Lebih kelihatan nyengir sebenarnya.

Salah tingkah, kualihkan tatapanku kembali ke buku, mencoba berpikir logis. Misalnya saja, kenapa guru Bahasa Inggris belum masuk? Padahal sudah 15 menit berlalu sejak bel istirahat tadi. Tapi Dave masih menatapku dengan tatapan menilai yang nyaris penasaran.

Kukeluarkan komik dari kak Aga tadi. Merasa senang, lagi, ku buka lembar demi lembar. Aku terkesiap, kaget. Gimana gue baca ni komik? Bahasa jepang. Gue kan bisanya cuma ‘hai’ sama ‘iie’, batinku panik. Bakalan jadi pajangan doang nih di rak buku.

“Ada apa?” tanya Dave tiba-tiba. Ternyata dia masih memperhatikanku.

“Hah?” sahutku bodoh. Tak sadar menyuarakan kekagetanku. “Oh, nggak. Gue cuma bingung aja gimana baca ini komik. Gue nggak bisa Bahasa Jepang.” Lanjutku pelan, benar-benar merasa bodoh.

“Oh. Gue kira loe kenapa,” jawabnya, terdengar geli. “Gue juga suka Detective Conan.” Lanjutnya.

“Oh, ya?”

“Yeah. Loe beruntung dikasih yang asli. Gue aja pengen. Walaupun ntar cuma jadi pajangan di rak buku.” Jawabnya, kelihatannya menahan tawa karena berhasil mengartikan mimikku yang pasrah ‘pajangan di rak buku’.

“Oh.” Jawabku bingung. Itu artinya dia ada di kelas sejak kak Aga masuk. Tapi, kok gue nggak ngeliat Dave masuk ya? Apa segitunya teralihkan oleh kak Aga? “Yeah…. Gue emang beruntung banget,” lanjutku. Lagi-lagi memerah.

“Hmm..” Balasnya singkat.

Bingung mendengar nadanya, kutatap lagi dia. Aku semakin bingung melihat senyum yang terpasang di wajahnya, berbeda dengan yang tadi, kali ini senyumnya kecut. Wajah tampannya terlihat aneh dengan senyum itu. Dave mengalihkan pandangannya dariku dan menatap papan tulis, aku ikut mengalihkan tatapanku dengan kening berkerut. Bingung.

Sepanjang sisa pelajaran, kami sama-sama bisu. Entah apa yang dipikirkannya. Wajahnya terlihat marah, kecewa, lalu sedih. Ekpresinya berganti-ganti. Aku mengingat kembali percakapan singkat tadi. Apa ada kata-kata gue yang salah? Sepertinya aku hanya mengatakan oh dan iya. Ada apa sih sama ini cowok? Kenapa tiba-tiba ramah dan menjadi marah 5 menit kemudian?

Wow. Teman sebangkuku benar-benar aneh! Batinku, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dari sudut mata kulihat Dave kembali menatapku, tatapan penasaran yang tajam, mugkin aku juga terlihat aneh bagi dia. Yang jelas, aku sudah tak sabar menunggu bel pulang berbunyi, ingin segera bertemu kak Aga.

Kak Aga

Akhirnya bel pulangpun berbunyi, tanpa menunggu teman-temanku lagi, aku langsung berlari keluar kelas menuju lapangan parkir tempat kak Aga biasanya menungguku. Tapi ternyata itu tak perlu lagi, karena kak Aga sudah di depanku, bersandar di daun pintu dengan senyum lebarnya menatapku. Senang rasanya bisa melihat senyum itu lagi.

“Kak….” Sapaku canggung, terkejut melihatnya sudah berdiri di sana.

Kak Aga tersenyum semakin lebar. Tapi, bukannya sulit diduga -karena memang sudah pasti- teman-temanku yang sangat mengerti langsung melontantarkan berbagai macam ledekan yang bisa membuatku memerah. Bener-bener sahabat yang baik, batinku kesal.

Kak Aga menarik tanganku, membawaku pergi. Mungkin kak Aga mengerti kalau aku mulai malu. Kak Aga masih memegang tanganku sampai di tempat parkir, dan membawaku menuju mobil jazz putihnya. Sampai di samping pintu penumpang ia melepaskan tanganku lalu membukakan pintu untukku. Aku masuk sambil menggumamkan terima kasih. Tak lama kemudian, kak Aga menyusul masuk.

“Mau mampir makan dulu atau langsung pulang?” tanya kak Aga. Kak Aga memang selalu bertanya seperti itu setiap kali mengantarku pulang.

“Mmm… langsung pulang aja deh, kak.” Jawabku. Aku merasa bodoh mengatakan hal itu, padahal kak Aga kan baru pulang, seharusnya tindakan yang tepat adalah jalan-jalan sama kak Aga. Ugh, gue kenapa sih?

“Nggak kangen sama gue? Katanya tadi kangen?” goda kak Aga.

“Kangen, sih. Tapi jalan-jalannya besok aja ya, kak.” Jawabku. “Hari ini aku tugasnya banyak banget! Kakak main ke rumah aku aja, sekalian bantuin ngerjain tugas, hehe….” Lanjutku sambil nyengir.

Kak Aga tersenyum melihat cengiranku sebelum mengiyakan.

Duduk disini, di dalam mobil kak Aga, setelah satu bulan tidak bertemu, mengobrol dan tertawa dengannya, rasanya seolah-olah kak Aga tidak pernah pergi sebelumnya. Rasanya sangat menyenangkan. Seperti bernapas, hal biasa yang selalu kau lakukan, tapi kadang tidak kau sadari kalau itu sangat kau butuhkan untuk kelangsungan hidupmu. Aku bertahan selama satu bulan ini semua karena teman-temanku. Mereka seperti tabung gas buatku, membantu pernapasanku dan membuatku tetap hidup, saat aku tidak bisa menghirup oksigenku yang sedang pergi.

Ini mungkin akan terdengar berlebihan kalau aku menceritakannya kepada orang yang baru kukenal. Tapi tidak bagi teman-temanku dan semua orang yang sudah lama mengenalku. Karena sejak aku memulai kehidupanku yang baru di sini, kak Aga selalu ada di sana, mendukungku, melindungiku, dan membantuku berdiri. Membuatku percaya diri dan bisa memiliki teman-teman baik seperti sekarang. Bukan berarti kak Aga selalu ada di sampingku. Hanya saja, mengetahuinya ada di sana, satu kota dan satu sekolah denganku, dalam jarak dekat yang bisa kuraih membuatku merasa nyaman. Makanya, saat kak Aga berada di Jepang, satu bulan, itu cukup berat, bahkan dengan dibantu tabung gasku sendiri.

Bagiku, kak Aga bukan saja seperti seorang kakak, tapi juga cinta pertama. Kak Aga anak teman mamaku. Dulu pertama kali aku datang ke Jakarta ini saat kelas 3 Sekolah Dasar. Saat itu aku benar-benar merasa sendiri dan kebingungan dengan lingkungan baru. Dan di sanalah kak Aga selalu hadir, sebagai kakak kelasku, dan teman pertamaku, yang selalu melindungiku dan menemaniku kemanapun aku pergi.

Entah bagimana jadinya waktu itu kalau kak Aga tidak datang dan mengulurkan tangannya padaku saat aku menangis sambil berjongkok di samping kelas yang harusnya kumasuki. Ternyata saat itu kak Aga sudah dipesenin sama tante Nuri -mama kak Aga-untuk mencariku dan menemaniku di sekolah baruku. Sejak saat itulah aku merasakan perasaan itu.

Kadang terpikir olehku untuk mengungkapkan perasaanku pada kak Aga. Hanya saja aku takut, bagaimana kalau kak Aga hanya menganggapku sebagai adiknya? Aku tidak mau merusak semuanya, takut kalau nantinya kak Aga malah menjauhiku. Kurasa sebaiknya memang harus dibiarkan seperti ini. Kalaupun nantinya kak Aga menemukan seseorang yang dia suka, aku akan berusaha melepaskannya dengan tersenyum. Mendoakan dia agar dia bahagia. Dan aku harusnya bersyukur atas masa panjang yang sudah kuhabiskan bareng kak Aga. Dan seperti kataku, asalkan dia ada di sana, masih bisa bisa terlihat olehku, aku akan baik-baik saja.

“Hei! Luna? Kok ngelamun sih?” kata kak Aga sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku.

“Hah? Apa kak? Kakak tadi ngomong apa? Maaf…” gumamku pelan.

“Yee… dia ngelamun. Sudah nyampe rumah ni.” Jawab kak Aga sambil menahan senyumnya.

Kak Aga turun dari mobilnya, berjalan ke pintu penumpang untuk membukakan pintuku.

Saat aku menggumamkan terima kasih, Handphone kak Aga berbunyi. Dia menatap layar handphonenya dan mukanya berubah cerah. Senyum menawan tersungging di bibirnya.

“Moshi-moshi*.” Sapa kak Aga, berjalan menjauh. Masih tersenyum senang. Dan perasaanku entah kenapa menjadi gelisah.

“Hai, genki desu*.” Jawab kak Aga pada peneleponnya.

Oh. Dari Jepang. Pikirku. Kuperhatikan lagi wajah kak Aga. Ada yang berbeda di sana. Entah apa. Aku mencoba berpikir positif. Mungkin kabar tentang beasiswanya. Mungkin kak Aga diterima. Dan kak Aga akan pergi.

Pergi… kuulangi kata itu dalam hati. Pergi… dan aku mulai merasa sesak, tak bisa bernapas.

“Luna.” Seru kak Aga, menghentikan pikiranku. Kedengaran bersemangat sekali, pikirku.

“hm?” aku kehilangan semangat.

“Sorry ya, Lun, gue harus pergi sekarang. Jadi nggak bisa nemenin Luna belajar.” Katanya.

“Oh, iya, nggak apa-apa kok kak.” Jawabku

“Thanks ya.” Katanya. “Gue mau ke bandara dulu. Nanti gue telepon ya, Lun. Gue ada kejutan buat Luna.” Lanjut kak Aga. Senang sekali kelihatannya.

“Iya kak. Hati-hati.” Jawabku.

Aku memandang kak Aga sambil tersenyum paksa, sampai mobilnya menghilang di tikungan, lalu berjalan lesu ke dalam  rumahku yang mungil, mencari kedamaian di dalamnya. Tapi teringat kalau saat ini tidak ada orang di rumah. Jam segini rumahku selalu kosong. Itulah salah satu alasan kenapa kak Aga selalu bertanya apa aku mau makan dulu baru pulang. Karena dia tahu, tidak akan ada apa-apa di rumahku. Seperti sekarang, aku menggoreng ayam yang sudah dibumbui Bunda sebagai makan siangku.

Aku membawa piring makanku ke depan TV. Mencari saluran yang bagus, dan tidak menemukan apa-apa. Aku makan dengan pikiran kembali ke kak Aga. Ada yang aneh tadi, saat kak Aga menerima telepon. Ekspresinya! Aku tak pernah melihat ekspresi itu sebelum ini. Apa ya? Apa yang membuat kak Aga begitu senang seolah-olah… ah! Aku tak ingin memikirkannya. Mungkin itu memang telepon tentang beasiswanya. Tapi, tadi kak Aga bilang mau ke bandara. Ngapain? Oh iya, mungkin mau jemput tante Nuri, kan tante Nuri lagi ada di Aussie. Hm… asyik! Bisa kebagian oleh-oleh nih, batinku senang.

* * *

Keesokannya sepulang sekolah aku diajak kak Aga makan siang di café kami yang biasa. Semalam kak Aga meneleponku dan bilang dia punya kejutan buatku. Well, seenggaknya itu menaikkan sedikit semangatku dan sangat membantu untuk tetap bertahan menyelesaikan semua PR-ku.

Di sana, di meja kami yang biasa, duduk seorang cewek, bahkan hanya dengan melihat punggungnya saja aku bisa tahu kalau dia cantik. Aku berhenti, melihat sekeliling, mencari meja lain yang kosong dan menemukan satu di pojok kanan café. Setengah berjalan ke meja itu aku menggapai tangan kak Aga yang ada di sebelah kananku, tapi ternyata tidak ada apa-apa di sana. Aku menoleh, kak Aga sudah berjalan duluan di depan, ke arah meja yang sudah di tempati cewek cantik itu. Dengan bingung aku menyusul kak Aga, kuraih sikunya dan berkata pelan, “Kak, ada meja kosong…” tapi kata-kataku terhenti karena melihat ekspresi itu, ekspresi yang sama dengan kemarin.

Kak Aga sampai di meja itu, di belakang cewek cantik itu. Aku sangat bingung melihat kak Aga duduk dengan santai di hadapan cewek itu. Apaan sih kak Aga? Apa dia mau nyuruh cewek itu pindah? Batinku. Tapi, entah kenapa aku tahu, ada sesuatu yang lain di sini, ada sesuatu yang membuatku jadi sangat gelisah.

“Kei-chan, gomennasai*. Traffic jam!” sapa kak Aga, dengan senyum sangat menawan yang bahkan tidak pernah ditunjukkan padaku.

Cewek yang dipanggil kei-chan itu menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Aku masih berdiri, bingung dan cemas. Aku juga nggak ngerti kenapa bisa merasa cemas.

“Luna! Kok bediri aja. Sini! Aku kenalin.” Kak Aga berdiri dari tempat duduknya dan menarikku duduk di samping cewek itu.

“Luna, ini Kei. And Kei..” kata-kata kak Aga dipotong cewek itu. Dia berdiri, dan membungkukkan badan-Khas orang jepang-dan memperkenalkan diriya sendiri.

“Watashi wa Keiko Sawaguchi desu. Hajimemashite Luna-chan.” Wow! Dia sangat cantik! Batinku. Kulitnya putih, rambut hitam lurus sepinggang. Dan dia juga lebih tinggi dariku yang hanya 160cm. mungkin dia sekitar 165cm. Keiko tersenyum memandangku. Menungguku mengatakan sesuatu.

“Um, Ha-hajimemashite Sawaguchi-san” kataku terbata-bata. Aku sedikit menunduk, tidak ingin menatap wajahnya yang sempurna secara langsung. Aku mengamati bajunya, hanya dengan baju kaos hitam sampai siku dan celana jeans pendek 10cm di atas lutut saja dia bisa begitu cantik. Uh! Rasanya sangat tidak nyaman ada di sampingnya. Batinku putus asa.

“Iie, just keiko, please. Or Kei-chan. Like Aga-kun” jelasnya sambil kembali duduk. “Kawai-na, Luna-chan! just like what Aga kun said!” Ia tersenyum lagi.

Aku menatap kak aga bingung. kak Aga agak geli melihat ekspresiku dan kemudian menjelaskan kata-kata keiko tadi. “Katanya Luna manis”

“oh~oh!” kataku. “A-arigatou Ke-Kei-chan. Kei-chan Kawai too.” lanjutku berantakan.

Keiko tertawa. “Gak apa-apa kok. Aku bisa bahasa indonesia. Diajarin Aga kun.” balasnya. Aku kaget. Dan mereka berdua tertawa melihatku. Aku kesal, tapi kemudian ikut tertawa bersama mereka.

Kami mengobrol sambil memakan pesanan kami. Keiko ternyata sangat ramah dan suka bercanda. Dia menceritakan saat pertemuan pertamanya dengan kak Aga. Lalu mereka jadi teman. Dan sampai akhirnya dia memutuskan untuk berkunjung ke Indonesia. Bahkan berencana akan kuliah di Jakarta. Keiko ternyata seangkatan dengan kak Aga. Ayahnya orang Indonesia dan ibunya orang jepang. Jadi tadi itu dia berbahasa jepang hanya untuk mengerjaiku karena disuruh oleh kak Aga. Dan dia sangat pandai berbahasa indonesia, karena Ayahnya mengajarinya sejak kecil.

“Kei mau nginap di mana? Apa di sini ada keluarga juga?” tanyaku, setelah beberapa saat hanya mendengarkan dia bercerita.

“Nggak ada. Otoosan udah nggak punya keluarga di sini. Aku sih tadinya mau nginep di hotel aja. Tapi, kata Aga kun, mungkin Luna mau nampung aku. Hehe.” jelasnya sambil nyengir.

“Oh. Iya, boleh kok! malah aku senang, jadi kayak punya kakak cewek.” Kataku sambil tersenyum senang.

“Bener? Wah, aku juga pengen punya saudara lho. Aku kan anak tunggal!” Keiko meraih tanganku, menggenggamnya, dan menatapku senang, “Makasih ya Luna chan! panggil aku oneechan aja gimana?” lanjutnya. Tatapannya berubah sedikit memohon.

“hah?” kataku kaget. Oneechan itu artinya kakak kan? Batinku. “iya deh.” Lanjutku.

“Yatta! Luna chan emang baik!” Aku tersenyum melihat ekspresinya.

Kami pulang setelah mengantar keiko ke hotelnya. Keiko baru akan menginap di rumahku besok. Karena dia sudah terlanjur memesan kamar untuk malam ini. Di mobil tinggal aku dan kak Aga. Setelah beberapa saat yang hening. Kak aga mengucapkan terimakasih karena aku sudah mau menampung tamunya.

“Apaan sih kak! Kayak orang lain aja. Lagian kan dia sudah jadi oneechannya aku” balasku nyengir.

Kak Aga tersenyum. “Gue suka sama keiko. Makanya gue berterimakasih, Luna ngizinin dia nginap, itu artinya dia bakal lebih lama di sini. Kalau di hotel gak bakal lama deh.” Jelas kak aga.

Aku terdiam. Untuk sesaat rasanya waktu berhenti. Ini gak bener, kan? Ini bohongan, kan? Batinku tak percaya. Ternyata perasaan cemasku tadi memang beralasan. Itu insting menghadapi ini. Harusnya aku tahu sejak awal, sejak melihat tatapan lembut Kak Aga terhadap Keiko. Seharusnya gue sadar, kalau selamanya gue hanya akan jadi adek bagi kak Aga. Aku berharap ini benar-benar mimpi. Dan aku akan terbangun besok, dan kak Aga belum pulang.

Tapi semua pikiran itu percuma. Karena suara kak Aga menghentakkanku kembali ke kenyataan. “Luna…mau bantuin gue kan? Gue mau nembak dia nanti. Sebelum dia balik ke Jepang. Mau ya?” kak Aga memohon kepadaku. Memohon kebahagiaannya di atas sakitku.

“Iya.” jawabku kaku. Aku terdiam sepanjang perjalan pulang. Kak Aga menyuarakan lagi rasa terimakasihnya. Aku tidak mendengarkan. Hanya memasang senyum kaku di bibirku. Untung saja di dalam mobil gelap.

Aku tak tahan lagi. Rasanya ingin melompat dari mobil ini. Kenapa rasanya rumahku jauh sekali? Batinku. Kak aga terus saja berceloteh tentang betapa menawannya Keiko, rasa sukanya sejak pertama bertemu. Aku berusaha tidak mendengarkan, hanya saja kata-kata kak Aga seolah dipaksa masuk ke dalam telingaku, menjangkiti pikiranku. Dan terus saja, sepanjang jalan yamg terasa sangat lama itu kak Aga pun telah berubah. Tadinya dia adalah orang yang melindungiku, menyembuhkanku. Sekarang dia menjadi orang yang menuangkan perasan jeruk ke luka-lukaku. Dia yang selalu bagai saputangan yang menghapus air mataku, sekarang kak Aga malah menjadi bawang merah yang akan membuatku menangisinya sepanjang malam ini.

Aku jadi ingat kata Firda, “Semakin jauh kau membiarkan seseorang memasuki hatimu. Semakin dalam dia akan menyakitimu”.

Saat akhirnya mobil berhenti di depan rumahku, aku keluar mobil tanpa menunggu kak Aga membukakannya seperti biasa. Aku merasa seperti robot. Berjalan keluar dari mobil kak Aga, mengucapkan terimakasih dan selamat malam. Masuk ke rumah dan setengah berlari masuk ke kamarku. Ku kunci pintu kamarku, lalu menghamburkan diri ke tempat tidurku. Aku menangis, membasahi bantal yang kugigit. Dulu, Aku tak pernah merasa perlu untuk membeli sapu tangan atau tissu. Karena aku punya sapu tanganku sendiri. Kak Aga. Rasanya sangat sakit menyebut namanya bahkan hanya dalam pikiranku.

Aku mendengar suara bunda mengetuk pintu kamarku. Suara tangisku pasti cukup keras sampai aku tidak bisa mendengar apa yang diucapkan bunda. Maafin aku bunda. Padahal aku sudah janji nggak akan nangis demi bunda. Ketukan di pintu berhenti, mungkin bunda merasa aku sangat sedih sampai tidak bisa bercerita. Aku terus menangis, sekarang hampir seluruh bantalku basah. Aku tidak ingat berapa lama aku menangis sampai akhirnya cukup kelelahan hingga tertidur.

* * *

Aku yakin 99.99% sedang bermimpi. Aku kan tidak mungkin kembali ke tempat ini, sekolahku saat aku kelas 3 sampai 6 SD. Aku sedang berdiri di depan gerbang sekolahku, saat melihat seorang gadis kecil duduk memeluk lutut di pojok kanan lapangan basket. Gadis kecil itu sedang menangis, suaranya isakannya cukup keras hingga bisa terdengar olehku. Kepalanya tersembunyi di antara lututnya, rambutnya yang dikuncir sebelah? Aku tersenyum kecil, mungkin tadinya rambutnya dikuncir dua, hanya saja sekarang tinggal kunciran sebelah kiri yang tersisa.

Aku baru setengah jalan ke arah gadis itu saat melihat seorang anak laki-laki berlari mengelilingi lapangan basket itu, sepertinya sedang dihukum, pikirku. Aku terus berjalan sampai akhirnya duduk di samping kiri gadis itu, dan baru saja akan menyapa gadis kecil itu, ketika anak laki-laki yang berlari tadi menyelesaikan putaran terakhirnya dan duduk di samping kanan gadis kecil itu. Oh! Itu kak Aga, kan? jeritku tertahan. Tunggu dulu! Tempat ini, situasi ini… oh, aku ingat! Ini kan saat hari ketigaku di SD ini. Waktu seorang anak gendut bernama Dino menarik lepas kunciranku, menjatuhkan bekalku yang belum sempat kumakan, dan membuatku menangis sehingga kak Aga datang membelaku dan berkelahi dengan anak itu. Itulah yang menyebabkan kak Aga mendapatkan hukuman ini, lari keliling lapangan sebanyak 15x. Seharusnya sih hanya 10x sama dengan Dino. Tapi kak Aga bersikeras agar hukuman 5x ku dia yang melakukannya. Dia tak ingin aku dihukum. Itulah sebabnya aku -gadis kecil itu- menangis. Aku sangat merasa bersalah saat itu.

“Luna, kenapa masih nangis?” kata Aga kecil saat itu. “Dino pasti nggak akan gangguin Luna lagi deh!” lanjutnya sambil tersenyum kecil.

Aku -Luna kecil- mengangkat kepalaku dan menatap kak Aga. Matanya agak bengkak dan hidungnya sangat merah karena mengangis seharian.

“Hahahabisnya kak Aga dihukum gara-gara Luna kan?” jawabnya sesenggukan. “Kak Aga juga luka…” lanjutnya. Suaranya pecah saat melihat sudut bibir Aga kecil yang berdarah dan bengkak.

Ia menangis lagi, kali ini lebih keras dari yang tadi. Aku yang juga melihatnya dari samping Luna kecil mengangguk. Itu benar, kataku mengiyakan. Aku ingat saat itu aku sangat takut melihat kak Aga berdarah karena berkelahi dengan Dino yang jelas-jelas badannya jauh lebih besar dari kak Aga, dan merasa semakin bersalah saat kak Aga menggantikanku menjalani hukuman.

Aga kecil tertawa. Membuat Luna kecil memandangnya bingung. “Luna pernah bilang mau jadi matahari buat orang yang luna sayangin, kan? Kalau Luna kayak gini gimana bisa?” kata kak Aga. “Um..gimana kalau mulai sekarang aku aja yang jadi matahari buat Luna. Dan Luna itu bulan.” Lanjut kak Aga.

Luna berhernti menangis dan bertanya dengan suara kecil,”Kenapa Luna jadi bulan?”

Kak Aga tersenyum, bahkan saat itu aku yang masih kecilpun tersipu melihatnya, ”Kata mama, bulan itu menerima cahaya dari matahari. Itu yang membuat bulan terlihat begitu indah. Cahaya dari matahari menutupi permukaan bulan yang tidak sempurna. Jadi kalau matahari nggak ada, bulan nggak akan kelihatan dari bumi karena bulan nggak punya cahaya sendiri.” Jelasnya. “Sama kayak Luna kan?”

“Apanya?” Tanya Luna kecil.

“Luna kayak bulan, nggak punya cahaya sendiri. Belum.” Jawab kak Aga, masih tersenyum memandang Luna. “Tugas kak Aga buat bikin Luna bercahaya. Cuma bedanya, Luna itu memang sudah indah, cantik, tinggal cahayanya aja yang belum keluar. Kak Aga mau bantu Luna, ngasih Luna cahaya, kekuatan, tapi Luna harus janji. Mau?

“Janji apa?” Luna mulai tersenyum kecil.

“Janji jangan cengeng lagi. Hahaha” kak Aga tertawa, Luna yang cemberut pun ikut tertawa.

“Dan…kalaupun kak Aga nggak ada, harus tetap bersinar, jangan kayak bulan yang nggak bersinar tanpa matahari. oke?” Lanjut Aga kecil dengan muka serius.

Luna tersenyum, dan mengangguk, “oke.”

* * *

Aku terbangun, mimpi tadi benar-benar sudah menghentakkan perasaanku. Itu benar, aku sudah berjanji pada kak Aga, akan tetap menjadi bulan yang bersinar tanpa matahari. Tapi bagaimana bisa? Itu melawan hukum alam namanya. Tidak mungkin bulan bisa bersinar tanpa cahaya dari matahari. Apa aku bisa? Dan kenapa? Kenapa kak Aga harus mengandaikan kami seperti bulan dan matahari? Sementara bulan dan matahari terpisah antara malam dan siang, mereka tidak pernah terlihat berdampingan. Apa itu artinya aku juga nggak akan pernah bisa bersama kak Aga?

Aku menangis, menangis ketika menyadari mungkin itu semua benar. Percuma saja aku melawan hukum alam. Itu percuma. Dan di sela-sela tangisku aku ingat janjiku yang lain, janjiku yang kuucapkan pada diriku sendiri. Kalaupun nantinya kak Aga menemukan seseorang yang dia suka, aku akan berusaha melepaskannya dengan tersenyum. Ya, aku harus melepasnya dengan tersenyum, walaupun aku harus hilang dari hatinya.

Tetangga Baru

Aku berjalan lemas memasuki kelasku. Rasanya waktu berjalan sangat cepat. Aku tidak sadar bagaimana aku bisa sudah sampai ke sekolah. Yang aku ingat hanyalah tatapan prihatin bunda saat sarapan tadi. Aku tahu Bunda menungguku untuk menceritakan apa yang terjadi. Bunda memang bukan tipe yang suka mengorek-ngorek masalah anaknya. Hanya saja aku juga belum siap menceritakan masalah ini ke Bunda. Kejadian setelah sarapan sampai sekolah itu tidak ada yang benar-benar aku ingat, seolah-olah aku tidak ada di sana. Tapi mungkin aku memang tidak ada dimana-mana saat ini. Aku yakin kak Rei sangat sebal tadi karena sikap patungku.

Anak-anak menyambutku saat masuk kelas, ramai seperti biasa. Aku mengabaikan mereka, not in the mood girls, sorry. Aku mendengar Ai mengatakan sesuatu, menyuruh mereka diam mungkin. Bagus! Masih ada yang peka ternyata. Now, leave me alone, okay?. Aku berjalan menuju bangkuku, rasanya sangat lelah. Anak-anak memandangiku dari depan pintu, aku tahu aku salah, mengabaikan mereka seperti itu. Benar-benar sikap yang tidak tahu terima kasih. Mereka kan hanya memperhatikanku, mungkin aku akan senang di saat-saat lain, tapi tidak saat ini. Kuharap mereka juga mengabaikanku saja, aku sedang tidak ingin bercerita. Tidak kalau itu hanya akan membuat air mataku bercucuran lagi.

Seseorang duduk di sampingku. Oh, benar! Aku lupa aku tidak duduk sendiri lagi. Ini pasti sangat tidak nyaman, aku tidak ingin Dave menanyakan ekspresi muramku. Yang benar saja! Dia kan cowok yang baru kukenal 2 hari lalu. Aku mencoba memperbaiki ekspresiku, membuka tasku, dan mengambil novel yang baru kubeli beberapa hari lalu, The short second life of Bree Tanner, dan memandangi tulisannya tanpa benar-benar membacanya.

Waktu berlalu, 1 menit, 2 menit, 3 menit, 4… Dave tidak bergerak dari tempat duduknya, menoleh padaku pun tidak. Sial! Apa sih yang gue harapkan? Masa’ iya gue berharap dia merhatiin gue? Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku memaki diriku sendiri. Ini benar-benar konyol! Dan, kenapa guru belum juga masuk? Rasanya aku lebih baik belajar sekarang, daripada memikirkan hal yang tidak-tidak. Yahh…walaupun harus belajar fisika.

Sepertinya kesialanku masih berlanjut saat Riny dan Vya yang baru kembali dari ruang guru mengumumkan kalau Bu Titin tidak masuk tanpa menitipkan tugas. Bagus! 3 jam kosong yang sangat aku butuhkan! Aku menggumam sebal ke buku yang sedang kubaca, saat Dave berdiri dari tempat duduknya dan keluar kelas. Dasar cowok batu! Entah kenapa aku merasa sebal pada Dave. Bukankah aku harusnya merasa senang dia tidak memperhatikanku? Atau merasa biasa saja. Dia kan memang selalu begitu. Cuek! Aku bahkan tidak pernah mengobrol lagi dengan dia setelah hari pertama itu. Kurasa ada yang salah dengan perasaanku. Atau otakku? Sepertinya tubuh, perasaan, dan otakku sedang tidak sinkron saat ini. Semuanya berantakan.

Anehnya, aku juga sedikit terkejut, karena saat ada Dave di sampingku aku lebih memikirkan apa yang akan dilakukan cowok itu hari ini, menunggu reaksi-reaksinya yang membuatku bingung, dan itu sedikit membantuku menyingkirkan kak Aga dari benakku. Mungkin ini bagus. Ayo mencari masalah dengan Dave, batinku. Aku tersenyum kecut memikirkan apa yang bisa kulakukan untuk waktu kosong yang panjang ini.

Perhatianku teralih oleh Ai yang terus memandangiku dari tempat duduknya. Firda, Riny, Ayu dan Vya berbisik-bisik di depan pintu sambil sesekali melihat ke arahku. Tapi, sepertinya Ai memutuskan sudah waktunya untuk bertanya karena ia sedang berjalan ke arahku sekarang.

“Na, kantin, yuk!” katanya.  Aku terkejut mendengar kata-katanya. Kupikir dia akan menanyakan keadaanku atau apa. Ai seperti bunda saja, benar-benar mengerti kalau ini bukan saat yang tepat.

“Iya, ntar gue nyusul ya. Kalian duluan aja.” Jawabku sambil tersenyum singkat. Kuharap itu cukup untuk menunjukkan rasa terima kasihku.

“Hm, yaudah. Jangan lama ya. Mau gue pesenin makanan duluan gak?” mata Ai sedikit cemas saat menanyakan hal itu.

“Kayaknya nggak deh. Gue belum laper.” Jawabku cepat.

“Oke.” Ai segera mengiyakan.

Aku memandangi mereka keluar kelas, berusaha tersenyum meyakinkan, dan mendesah lega setelahnya. Kumasukkan bukuku ke dalam tas, berdiri, tapi duduk lagi. Rasanya terlalu cepat untuk ke kantin sekarang, batinku. Kurasa aku akan mencoba menenangkan diri dulu sedikit sebelum menyusul anak-anak ke kantin. Bagaimanapun aku kan harus berinteraksi dengan mereka. Untung saja saat itu kelas kosong. Aku berdeham-deham, mencoba berbagai nada sapaan yang kedengaran wajar.

“Oi! Ngapain sih?” sapa seseorang dari pintu kelas.

Aku menoleh kaget. “Dave? Sejak kapan?” Dave bersandar santai pada pintu kelas. Satu tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya, dan yang satunya lagi membawa sekotak eskrim.

“Dari tadi.” Jawabnya santai sambil berjalan ke arahku. “Lo ngapain di sini? Mau maling ya, mumpung kelas kosong?”

Sial! Dasar cowok jelek! Rasanya kesal sekali.

“Niatnya sih gitu.” Balasku sama cueknya. “Tapi sayang lo keburu dateng.”

Dave nyengir. “Oh, sorry deh gue udah ngegagalin niat lo.”

Aku diam saja. Kelas tiba-tiba terasa sangat ramai, hanya karena ada Dave di sana. Sudah tidak nyaman lagi berlama-lama di sini, batinku. Aku berdiri dari tempat dudukku, dan baru saja sampai di lorong bangku, saat tangan Dave menahanku. Ia mencengkram pergelangan tanganku, cengkramannya terlalu kuat. Tapi ada sesuatu yang lain di sana, rasanya aku sangat mengenal tangan ini. Aku berhenti dan mencoba melepaskan cengkramannya.

“Apaan sih! Lepasin! Lepasin kalau nggak gue teriak!” kataku. Anehnya suaraku sangat tenang. Tidak ada rasa takut terhadap orang yang baru kukenal ini.

“Yaelah, emangnya lo mau gue apain sih?” jawabnya, nadanya sangat kesal, tapi kurasa kekesalan itu bukan ditujukan padaku. Kedengarannya seperti dia sedang mengingatkan dirinya sendiri. Menahan diri?

Aku diam saja dan berbalik pergi. Tapi Dave terlalu cepat, dia memblokir jalanku, dan merentangkan kedua tangannya.

“Tunggu! Gue belum selesai ngomong!” Dave mengambil kotak eskrim yang dibawanya tadi dari mejanya, tanpa melepaskan pandangannya padaku. “Nih buat elo.” Katanya sambil menyerahkan eskrim itu padaku.

“Hah?” jawabku kaget.

Dave mendecakkan lidah tak sabar saat aku tidak juga mengambil kotak eskrim itu. Dia meraih tanganku dan meletakkan kotak eskrim itu di sana, mencondongkan badannya ke arahku -aku terlalu terjekut sampai tidak mampu menggerakkan badanku- dan berbisik di telingaku, “Jangan sedih lagi.” Lalu berjalan keluar kelas dengan kedua tangan di dalam saku celana.

Aku masih mematung di tempatku. Aku masih bisa merasakan bekas cengkraman tangan dingin Dave tadi, dan hembusan napasnya masih hangat di telingaku. Aku merinding sendiri. Kenapa sih gue? Bangun Na, Bangun! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, seperti orang bodoh saja. Aku memikirkan semua yang dikatakan Dave tadi, juga sikapnya sambil berjalan ke kantin. Orang ini benar-benar aneh! Kenapa dia seperti itu? Kenapa memberiku es krim? Entah kenapa, perasaan aneh ini selalu muncul setiap kali bersama Dave. Perasaan yang mengatakan kalau ini bukan pertemuan pertamaku dengannya, seolah-olah aku sudah mengenalnya dari dulu. Biasanya aku tidak akan nyaman berada di dekat orang yang baru ku kenal, tapi Dave? Kenapa aku merasa seolah dia bukan orang asing?

* * *