Kotak Lagu…

Kabut tersapu mega

Disambut pelita

Bersama langkah yang hilang

Di balik jeruji

Ia rindukan kebebasan

Bosan di dominasi

Kemana arah yang biasanya bersama?

Ia mati sendiri

Tanpa kawan, tanpa lawan

Kenapa sepi yang ia rasakan terasa semakin menekan?

Entah…

Kapan kejujuran akan menang?

Dimana tempat untuk jadi diri sendiri tanpa melukai orang?

Hanya mendekat saat butuh

Dan terlupakan di tengah keramaian.

Bukan tak sanggup lagi berjalan

Bukan tak bisa lagi percaya

Tapi keyakinan itu

Hanya sebatas pelabuhan dermaga

Ia terhenti, mungkin mati

Belum mampu berlayar

Karena apa yang terbungkam kini berumbar

Jadi hal biasa bagi orang

Tapi kelamnya malam menjaring kenyataan

Kau kemasi kasih sayangmu

Dalam besarnya kotak-kotak lagu

Padahal di sini,

Sebuah lembaran baru

Menanti pena dari kotak lagumu

Advertisements

Aku adalah Puisi…

Aku adalah huruf puisi

Yang terbaca melafalkan kehidupan

Aku adalah kata puisi

Yang termakna menelusuri suara nurani

Aku adalah kalimat puisi

Yang berdiri tegap di atas buana

Aku adalah bahasa puisi

yang terbang menjelajahi semesta

aku adalah untaian puisi

yang terucap dalam doa suci

Rumah Sepi

Barangkali, kini aku mengerti

Yang telah terjadi

Dengan licik dan indah

Diam-diam kau masuki rumah kosongku

Kau ambil dan melipat sepi

Lalu dengan senyum geli

Kau masukkan sepi ke dalam laci

Saat itu aku sedang bermimpi

Dalam senandungmu yang nyaman

Disana semua kau sediakan untukku

Kecuali buku harianmu

Tiba di rumah,

Dalaci, di kamar sendiri

Kutemukan sepi yang selembar

Telah berbiak jadi setumpuk tebal